Text

MAKNA “JANMA HASTI GAPURANING GUSTI”

Halo kengkawan, selamat menikmati cerahnya matahari pagi atau sore di belahan dunia sebelah sana. Setelah sekian lama ga nulis, ada juga nih ide yang sepertinya seru buat dibahas. Sebetulnya hal yang akan saya bahas di sini mengenai Candrasangkala tetapi bukan menjurus ke pengertian Candrasangkala itu sendiri atau fungsinya.

Setelah saya diberi sedikit info tentang Candrasangkala oleh seseorang yang sepertinya paham mengenai hal tersebut, saya langsung penasaran mencarinya di internet. Lalu terpikir untuk menelusuri sebuah jargon dari Unit Kegiatan Mahasiswa yang sedang saya jalani saat ini, yap, Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran! Janma Hasti Gapuraning Gusti, yes, begitulah bunyinya… arti kata-perkata memang saya tidak paham maknanya. Karena Janma bisa diartikan jelema; manusia. Hasti sepertinya diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti gajah. Gapuraning kita artikan gapura, dan Gusti diartikan Tuhan; Alloh. Cukup bingung bukan untuk memaknainya? Tapi kalau kalian terbiasa memaknai sebuah puisi atau jargon-jargon sebuah perusahaan mungkin kalian bisa lebih paham.

Sekarang saya akan coba hubungkan “Janma Hasti Gapuraning Gusti” dengan perhitungan Candrasangkala. Dalam Candrasangkala, Janma bernilai 1; Gajah bernilai 8; Gapura bernilai 9; dan Gusti bernilai 1. Kalau kita susun angkanya, menjadi 1891 tetapi Candrasangkala itu membacanya dari belakang, jadi 1981, maksudnya tahun 1981. Untuk mengkonversi dari Candrasangkala ke tahun Masehi, tinggal kita tambah 78 tahun. 1981 + 78 = 2059 Masehi. Nah di sini saya menjadi bingung dengan hasil itu yang tidak sejalan dengan tujuan awal.

Awalnya saya terpikir “Janma Hasti Gapuraning Gusti” itu tahun lahir Lises Unpad dengan perhitungan Candrasangkala. Namun hasilnya tidak sesuai. Jadi, apa makna dan maksud yang terdapat dalam kalimat tersebut? Sampai saat tulisan ini dipublikasi, saya belum pernah mencari tahu lebih jauh tentang apa makna dibalik “Janma Hasti Gapuraning Gusti”. Semoga ada jalan, namun sesungguhnya jalan masih panjang terbentang yang sepertinya imajiner………. CMIIW :) (*IFM)

Photo
Taken with instagram

Taken with instagram

Photo
Taken with instagram

Taken with instagram

Text

Bandung Berisik

Bandung Berisik…. Yessss! Merupakan sebuah acara akbar di Kota Bandung. Hingga sekarang Bandung Berisik sudah digelar enam kali sejak Bandung Berisik pertama pada tahun 1995.

Alhamdulillah di Bandung Berisik yang ke-6 ini saya bisa hadir walaupun hanya satu hari, itupun saya telat masuk venue. Niat saya memang datang sampai venue saat break maghrib tetapi sesampainya di sana pintu masuk menuju venue ditutup karena sedang break adzan Maghrib. Padahal sejak pagi harinya saya telah menjadwalkan untuk menyaksikan band-band tertentu saja yang telah disesuaikan dengan rundown resmi Bandung Berisik yang saya dapat dari salah satu distro ternama di Bandung.

Pintu masuk pun dibuka. Sambil berjalan masuk, terlihat stage dihadapan saya. Saya kira itu panggung Holocaust atau panggung Apocalypse, setelah didekati ternyata itu panggungnya OZ Radio. Berjalan lebih jauh lagi, bertemulah dengan stand resmi Bandung Berisik. Baju-baju yang saya inginkan ternyata sudah tidak ada. Ya sudah saya beli yang ada saja daripada ga beli sama sekali. Lalu berjalan lagi mendekat panggung, eh ketemu stand distro-distro dilanjut foodcourt. Di sana ternyata ada teman-teman dari Alone at Last, salah satu band favorit saya. “Terakhir di Sabuga, sekarang ketemu lagi.”, kata Yas si vokalis Alone at Last sambil senyum. Papap, sang gitaris yang juga dosen HI Unpad pun sempat saya tanya, “Naha jarang panggih di kampus?”. “Inal meureun sibuk kuliah.” katanya. Saat itu mereka terlihat buru-buru, katanya, sudah disuruh ke backstage. Akhirnya kita berpisah. Dan saya merapat ke panggung Holocaust untuk melihat penampilan Mesin Tempur, dilanjut Death Vomit di panggung Inferno, balik lagi ke Holocaust untuk melihat Billfold tapi sebelumnya ada penampilan dari Noxa. Cukup lelah melangkah karena sepatu sudah berat terlumuri lumpur. Setelah Billfold, lanjut dengan Forgotten di panggung Inferno. Setelah Forgotten tadinya mau merapat ke Apocalypse buat nonton Under 18 tapi rasanya berat sekali untuk melangkah. Dan lokasi panggung Apocalypse yang cukup jauh. Ya sudah saya memutuskan balik lagi ke Holocaust. Di Holocaust disuguhkan penampilan dari Dead Vertical dilanjut oleh Alone at Last. Saya cukup kecewa saat itu, setelah melihat crew Alone at Last memberi tanda bahwa Alone at Last harus di-cut penampilannya.

Setelah Alone at Last turun panggung saya mencoba mengejar mereka dan memanggil Papap. Papap lalu mendekat ke saya dan terjadi perbincangan kecil

Saya : Naha asa sakeudeung, kang?

Papap : Bieu di-cut, waktu cenah. kuduna salagu deui.

Saya : Lagu naon?

Papap : Takkan. (*Takkan Terhenti Disini .red)

Saya : Oh. Ai album iraha kaluar?

Papap : Segera! (sambil tertawa)

Saya : Infoan sayanya mun kaluar!

Ya kurang lebih seperti begitu perbincangan saya dan Papap. Saya tidak bisa bertanya lebih jauh tentang album Alone at Last yang baru karena Papap pun segera bergegas ke tenda artis.

Setelah itu saya langsung bergegas menuju panggung Inferno karena PAS Band sudah siap menutup Bandung Berisik ini. Selama PAS Band membawakan lagu-lagunya, hanya satu lagu saya hapal yaitu, Impresi. Yang lainnya tidak tahu. Hahahaha maklum saya bukan Paser. Dan tahunya Impresi itu lagu terakhir dari PAS Band. Padahal biasanya PAS Band kalau manggung di Bandung, lagu terakhir mereka Aing Pendukung Persib. Sepertinya mereka membawakan lagu-lagu di album lamanya saat drummer PAS Band masih Richard Mutter. Tapi tak apalah. Saya terhibur dengan acara Bandung Berisik ini. Yeaaaaaahhh!!! Maximum Aggresion! (*IFM)

Text

Dipoyok Dilebok

Sebetulnya apa maksud kalian menulis menggunakan huruf yang membuat saya bingung untuk membacanya. Sudah tahu henpon saya tidak secanggih henpon yang bisa membaca dan menulis autotext. Dulu orang-orang yang menulis dengan ketidakjelasan penulisannya, kalian sebut alay. Sekarang kalian berubah seperti mereka, menulis dengan huruf-huruf yang tidak terbaca oleh saya. Saya tidak menyebut kalian alay. Tapi sifat kalian itu yang kalau dalam bahasa Sunda istilahnya “DIPOYOK DILEBOK”. Maksudnya sudah menghina orang lain tapi kalian sendiri yang menjadi hina karena perbuatan kalian. (*IFM)

Text

Mencoba menjawab pertanyaan dengan pertanyaan agar si penanya berpikir tanpa dapat jawaban instan!

Photo
Taken with instagram

Taken with instagram